Jumat, 06 November 2015

GIGOLO PENGEN INSAF 1


Siang itu Mbah To kedatangan seorang tamu yang terus terang mengaku sebagai gigolo. Sebut saja namanya Rio. Melihat perawakannya yang tinggi besar, gagah dan ganteng tentu itu modal  utama buat cari pelanggan. Siapa lagi kalo bukan cewek dan tante jablay.
Tapi siang ini sang cowok lagi pasang wajah jutek.
Rio    : Mbah , saya punya masalah nih.
Mbah To : Semua orang pasti punya masalah nak
Rio    : Tapi yang ini lain mbah
Mbah To : Baiklah…coba ceritakan
Rio    : Tapi mbah jangan ceritakan ke orang lain ya ..! ( dengan nada yang mulai merayu dan manja)
Mbah To : (Busyet nih anak…). Tidak akan saya ceritakan.  Rahasia anak dijamin disini.
Mbah To membuat gerakan mengunci mulut.
Rio mengulurkan jari kelingkingnya. “Suwerr ..ya mbah. Janji lho “
Mbah To : (Ampun deh …ini gigolo apa bencong sih ???)


Terpaksa mbah To ikut mengulurkan jari kelingkingnya.
Rio    : Jadi gini mbah. Bulan depan pacar saya mau nikah. Tapi bukan dengan saya.
Mbah To manggut- manggut (Syukurlah…cewek itu selamat. Daripada dia dapetin cowok yang nggak jelas kayak lo gini)
 Rio    : Sakit hati saya mbah. Coba mbah bayangin…semua udah saya lakuin untuk membahagiakannya.
Mbah To manggut- manggut (justru dengan pekerjaanmu itu dia bakalan lebih sakit hati).
Rio    : Setelah semuanya kuberikan, dia mencampakkan saya begitu saja
(Rio memasang wajah memelas kayak mau nangis gitu deh).
Mbah To merasa harus ambil tissue. Jangan- jangan cowok nggak jelas ini bakalan nangis kayak cewek habis nonton drama Korea. Mbah To berdiri, dan dengan lembutnya Rio menangkap tangannya.
Rio    : Pliss…jangan pergi dulu mbah. Dengerin aku dulu.
(ooohhh….. so sweet. Dalam gerakan lambat, acting mereka nggak kalah keren ama film- film cinta di Bollywood )
Mbah To bingung menentukan adegan berikutnya. Apakah dia harus memeluk Rio, atau Rio yang memeluknya. Dua pilihan itu terlihat berat dan membuatnya mual. Atau pilihan ketiga, tetap pergi dan membiarkan cowok nggak jelas itu berurai air mata.
Rio    : Aku sudah lelah mbah. Capek.
Mbah To : (siapa suruh lu capek? )
Rio    : Bayangin mbah, menghibur cewek- cewek yang sudah berumur. Mereka sudah banyak yang bersuami, bahkan punya anak dan cucu. Bayangkan mbah. Tidur dengan mereka.
Mbah To : (nggak mau ngebayangin. Denger aja udah mau muntah)
Rio    : Aku harus menerima segala curhat mereka, memberikan kasih sayang, memberikan kepuasan. Kadang aku dijadikan semacam hadiah waktu arisan. Kalau beruntung, aku bisa dapat cewek muda..kalau apes bisa dapat nenek ompong yang lupa usia. Hidup ini serasa nggak ada harganya. Satu sisi aku berkecukupan dan penuh hura- hura. Di sisi lain aku lelah, kesepian dan tak pernah puas.
(Hening sejenak. Mereka berdua sedang meresapi apa yang barusan diceritakan oleh Rio)
Rio    : Hingga suatu saat aku bertemu dengan Burhan.
Mbah To : (Busyet dah !! Ribet banget hidup lo !!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar