Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2016

Selingkuh butuh alasan

Mengapa Selingkuh ?

Sales : Tulus

Affair dengan Erna akhirnya terdengar juga ke telinga Sari, istri Tulus. Dia berang bukan main. Dan pertengkaran pun muncul.
Suasana di rumah bagai bara , yang mudah menjelma api yang membakar dengan hembusan angin yang sepoi sekalipun.
Tulus juga enek melihat istrinya. Menyebalkan. Sudah nggak cantik, selalu bersungut- sungut saja tiap berpapasan. Pingin nginjak tuh muka. Tapi Tulus memendam saja kejengkelan itu.

Maia oh Maia...Mengapa ??

Maia oh Maia
Sales : Baim
Part 2
 
(Untuk kisah sebelumnya bisa kamu baca di Maia oh Maia..)
Sebulan di tinggal Maia hidup Baim kian merana. Tapi karena sering diomelin Ibu, Baim –pun sering menghabiskan waktu nongkrong sama teman. Sepulang kerja, mandi , makan langsung cabut lagi.
Ibu Baim nggak bisa protes. Biarlah begitu daripada Baim bengong macam sapi ompong di rumah. Bikin sumpek.
Dari sekian teman nongkrong, akhirnya ada juga yang kesengsem sama Baim. Mitha.

Maia oh Maia....apa yang sudah kau lakukan pada anakku ???

Maia oh….Maia
Sales : Baim

Part 1

 
Sejak kuliah, baim menjalin hubungan dengan Maia. Dan hubungan ini-pun direstui kedua orang tua masing- msing. Baim sangat akrab dengan keluarga Maia, begitu juga Maia sudah diterima bagai anak sendiri oleh keluarga besar Baim. Mereka seolah sudah berjodoh.
Lulus kuliah, Maia melamar jadi PNS. Istilah kerennya CPNS.
Sedang Baim, karena sejak lama kerja sambil kuliah dia nggak perlu bingung cari kerja. Toh perusahaan tempat ia kerja lumayan bonafit, gaji lumayan dan prospek cerah. Baim betah kerja di sini.
Tinggal Maia. Tak henti- hentinya Baim membesarkan hati dan kasih suntikan semangat. Ujian jadi PNS tuh ternyata melelahkan. Butuh tenaga extra, ketabahan dan kesabaran. Penyaringan bisa memakan waktu berbulan- bulan. Alhamdulillah, Maia selalu di beri kelancaran.

Rabu, 13 April 2016

Bebek atau Burung ????

Bebek atau Burung


Suatu ketika sepasang suami istri berjalan melewati hutan yang temaram.
Satu- satunya penerangan hanya dari cahaya bulan yang menembus melalui dedaunan.
Mereka berpegangan tangan, saling menopang dan saling jaga agar tidak jatuh.

Hingga terdengar suara " Koaaaarrrkkk....Koaarrrrkk"

"Eh...suara bebek. Dimana yak ? si istri celingukan mencari sumber suara itu.
"Bebek?? Itu burung kaleeee..!!!" sang suami menimpali.

"Gimana sih beib...udah jelas itu bebek !!"
 "Bebek kok gitu. Bebek itu wek wek..Yang tadi mah jelas- jelas burung. Di hutan khan banyak burung. Dana nggak ada ceritanya di hutan itu ada bebek "  si suami menegaskan lagi.

"Tapi aku yakin itu bebek mas.... " suara sang istri mulai menegas dan meninggi.
"Bego banget sih lu...Itu burung.." sang suami tak mau kalah.

Dan mereka terus adu mulut. Baik istri maupun suami mulai mengeluarkan argument-nya. Segala teori dan hasil belajar mereka selama bertahun- tahun mereka semburkan dan tumpahkan hanya untuk memastikan bahwa suara itu adalah suara bebeka atau burung.

Mereka jadi saling sumpah, saling ejek dan saling maki.
Mereka terus  berjalan bersama, tapi dalam suasana yang benar- benar brengsek.

Sampai di suatu tempat yang agak terbuka sang suami melihat wajah istrinya. Wajah yang menjadi begitu dibencinya selama perjalanan tadi.
Ohh...wajah itu sembab oleh tangis dan tampak lelah oleh pertengkaran ini.Siapa yang membuatnya begini ? Aku sendiri ??
Sang suami menjadi iba. Entah mengapa ada yang menusuk di hatinya. Sang suami sangat mencintai sang istri, tapi entah mengapa tadi mereka saling bertengkar dengan begitu hebatnya hanya karena "Bebek atau Burung ?"Emang siapa yang peduli jika itu Bebek ? Atau siapa yang peduli jika itu burung ?"

Sang suami memeluk istrinya. "Oh..dinda, maafkan aku. Kamu mungkin betul..itu tadi bebek. Sekarang...mohon maafkan aku dan tetaplah bersamaku dan mari kita lalui hutan ini bersama- sama"

Sang istri-pun menjawab diiringi isak tangis
" Tidak kanda. Mungkin kanda benar, itu tadi burung. Maafkan dinda yang egois ...yang tidak mau mengalah pada kanda "

Mereka berpelukan.

Dan dalam detik itu mereka sadar, pertengkaran tadi untuk apa ?
Untuk bebek dan burung ?
Alangkah konyolnya.

Mereka saling mencintai dan tetap bertekat mempertahankan cintanya.
Bukan ego-nya.





Selasa, 05 April 2016

Lima Sales Geblek dalam episode Meeeting oh Meeting



Meeting oh..meeting.
Sales : Ko Tiok

Sejak Pak Ridho undur diri dari perusahaan, posisi sales manager jadi kosong. Siapakah gerangan penggantinya ? Apakah orang luar lagi ? Atau akan memunculkan nama- nama dari orang dalam ? Kalau orang dalam, harapan hanya ada di Ko Tiok. Sebab siapa lagi ?
Selalu mengandalkan orang luar sepertinya bukan pilihan yang bagus. Orang luar selalu butuh untuk adaptasi. Dan pasti selalu butuh pembelajaran lagi. Dan itu makan waktu. Padahal saat ini kita dituntut untuk berlari, bukan untuk selalu kembali posisi start.
Dan lagipula jika Tiok yag dingkat jadi sales manager, itu bagus untuk memotivasi tiap pekerja bahwa tidak ada prestasi yang mentok di perusahaan ini.

Lima Sales Geblek dalam episode Hikmah Se-ember Air



Hikmah Seember air
Sales : Norman

Kisah ini terjadi sepuluh tahun yang lalu ketika Norman menjadi seorang anak kost.
Kamar yang dia tempati sama seperti  kost- kost murah lainnya : sumpek , kumuh,  nggak nyaman dan selalu kena banjir. Banjirnya nggak tanggung- tanggung, kadang sampai sepinggang.
Lemari, dipan dan semua barang- barang dalam kamar kost pada tenggelam. Mau tidur juga susah.
Biasanya Norman akan mengungsi ke kost teman yang di posisi tingkat. Berdesak- desakkan nggak papa yang penting bisa tidur.

Senin, 04 April 2016

Lima Sales Geblek dalam Episode : Lebih baik ada teman daripada....



Lebih baik ada teman daripada…….


Sales : Erna

Selepas dari perusahaan, Erna menganggur. Dan ini bahaya banget. Erna paling nggak suka nganggur dan diam di rumah. Dia ingin selalu aktif dan bergerak.  Makanya jangan heran kalo lihat dia sering lari- lari siang hari. (Apa hubungannya nganggur dan lari- lari siang hari ? Nggak nyambung banget)
Saat nganggur Erna jadi aktif menulis. Sudah puluhan surat lamaran kerja dia tulis dan dia kirim ke berbagai macam perusahaan. Mulai perusahaan kelas teri, kelas tuna, kelas paus, perusahaan lokal maupun interlokal dia  labrak semua tanpa ampun. Tapi sampai detik ini belum juga ada panggilan. Hadeewww…
Erna juga memaksimalkan teman- temannya. Mulai Ima, Amin, Toha, Bobby, Renny…semuanya disuruh cari tahu info lowongan kerja di tempat kerja masing- masing. Jika ada loker segera hubungi Erna. Di 081615061950. Ingat !! Di nomor ini. ERNA. Bukan yang lain.
Tapi sampai detik ini belum juga ada kabar. Hadeewww….
Bagaimana ini ? Erna bingung. Hidup tanpa kerja tuh bagai malam nggak berbintang. Nggak asyik bangeeeet.
KERJA…KERJA…KERJA….itu yang selalu terngiang di telinga. Dan berkelebat di pikiran.
Tapi kerja apa ???
Sebuah SMS masuk. Dari Tulus (Ngapain lagi tuh anak menghubungi gue ?)
“di rumah ?”
Erna nggak membalas.
“kok nggak dibalas ?”
Erna tetap nggak membalas.
Panggilan masuk. Tulus. Erna menekan tombol silent.
Sampai tujuh panggilan dari Tulus dan Erna tetap nggak mau angkat telepon.
SMS masuk lagi.
“angkat dong….!!! Katanya butuh kerja “
Erna mulai tertarik.
Panggilan masuk lagi. Tulus. Erna sebenarnya ogah berhubungan lagi dengan Tulus…tapi godaan untuk bisa bekerja ternyata jauh lebih besar.
Erna menerima panggilan itu.
“Ya ..hallo”
“Aduuuhhh…sombong banget sekarang. Nggak mau dihubungin….”suara Tulus terdengar renyah.
“Aku sibuk. Ada apa ?”
“Ada lowongan kerja. Mau ?”
“Dimana ?“
“Idii..h. Nggak sopan kalee tanya hal sepenting ini lewat telepon. Apa nggak bisa ketemuan ?”
(Bangsat : batin Erna)
“Aku sibuk !!!”
“Paling kamu sibuk tidur. Ayolah !! Bisa ya ? Ketemuan sebentar gitu !!” Tulus tetap merayu. Benar- benar mulut seorang sales.
“ Mmmm……”
“Halaah..pake mikir. Aku kesana sekarang”
“Jangann…”
“Lho..kenapa ?”
“Kamu kan udah tahu “
(status Erna yang janda memang bikin repot. Setiap ada tamu laki- laki, pasti jadi gunjingan tetangga. Erna di cap sebagai janda yang doyan masukin laki- laki non muhrim. HUH…bikin emosi jiwa. Makanya Erna lebih memilih ketemuan di luar rumah aja. Jauh dari mata tetangga)
“Kita ketemuan di WAPO SUN CITY aja !” Erna membuka suara.
“Emang kamu ada kendaraan ? Naik apa ?”
“Taxi “
“Hallah. Kelamaan. Kujemput sebentar setelah itu langsung cabut”
“Baiklah “
“Oke..see you. I miss u. Mmmuaaah”
TUUUUUTTT..Panggilan berakhir.
Setan !! Mengapa harus Tulus lagi ? Selama ini Erna sudah berusaha menghindar setengah mati, tapi tetap aja pengaruh Tulus masih membayanginya. Brengsek..
Erna pun segera berdandan.
Tulus memeluknya dengan erat. Erna dengan canggung menerimanya.
“Kamu tambah cantik aja “ sanjung Tulus.
“Modus “
“Sumpah..”
“Hallah…”
Mereka tertawa renyah.
Sesampai di WAPO, Tulus memesan Kopi Aceh (nama kopi nya aja Tulus baru dengar..makanya pengen coba). Sedang Erna memesan The Tarik Medan.
Mereka mencari tempat duduk dekat dinding kaca yang menghadap keluar. View-nya bagus.
“Gimana anak- anak ?” Erna basa- basi bertanya.
“Baik. Kamu ?”
“Baik”
“Sudah interview kemana aja ?”
“Ada sih beberapa. Tapi belum ada yang cocok “( Erna berbohong. Belum ada satupun  panggilan yang masuk).
Tulus mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
“Coba kirim CV kesitu. Atau titipin ke aku. Lebih cept lebih baik”
“Perusahaan apa nih ?”
“Farmasi “
“Aku nggak begitu paham dunia obat”
“Di coba dulu. Siapa tahu rejeki kamu. Kalau emang nggak cocok, kita cari yang lain”
Erna manggut- manggut.
“Thank’s  ya “ Erna berterimakasih dengan sungguh- sungguh.
“Aahhh…”Tulus mengibaskan tangannya. (maksudnya : jangan  berterimakasih seperti itu. Kita khan suami istri…....lho ???)
“Trus..gimana dirimu selama ini ?” Tulus mulai menunjukkan perhatiannya.
“Gimana bagaimana maksudnya ?”
“Caramu melewati hari demi hari tanpaku ..”
“Ye…ge-er banget. Emang siapa elo ?”
“Yayang elo “
“Yee…Siapa bilang. Kita udah nggak ada hubungan apa- apa lagi “
“Ayolah…kita tahukan bahwa kata “putus” itu hanya omong kosong saja. Hati kita tetap satu “
Erna merasa perutnya jadi mulas mendengar rayuan Tulus.  Bahkan terasa mau muntah juga. Kata- kata manis yang tidak berujung manis. Malah pahit saja akibatnya.
Tulus memberanikan diri memegang tangan Erna. Reflek Erna mundur, namun jemarinya ditarik dengan kuat oleh Tulus. Terjadi gaya tarik menarik. Nggak ada yang mau ngalah. Dan akhirnya mereka berdua jadi lirikan beberapa pasang mata pengunjung yang lain.
Erna mengalah. Dibiarkannya Tulus memegang erat jemarinya.
Ada rasa kesal , tapi ada juga rasa nyaman. Paling tidak Erna tidak sendirian. Ada Tulus, yang selama ini selalu membantunya. Baik moril maupun spiritual. Andaikan Tulus seseorang yang masih sendiri, tentu perkaranya jauh lebih mudah.
Erna luruh. Dia sebenarnya sudah lelah bersandiwara sebagai sosok yang tegar. Tapi untuk saat ini dia harus. Erna nggak ingin Tulus masuk lagi dalam hatinya. Biarlah dia menjadi seorang teman. Teman yang mesra. Itu lebih baik daripada nggak ada teman sama sekali.

Lima Sales Geblek dalam Episode : Hidup sama dengan Masalah



Hidup = Masalah

Sales : Norman

“Tanpa masalah itu sama saja artinya dengan tidak hidup. Jadi jika ada orang ingin bebas dari masalah,  itu sama saja dia ingin mati. Karena konsekuensi dari hidup adalah adanya masalah. Jadi, nikmati saja masalahmu sampai akhir hayat” suara seorang motivator di stasiun radio.

“Wah…deep banget tuh” Norman berkomentar. Saat ini dia dalam satu mobil dengan Evy, sales baru dan mereka sedang joint visit ke beberapa customer. Norman yang nyetir.
“Apa betul begitu? Bukannya hidup ini adalah pilihan ?” Evy balas berkomentar.
“Kalau hidup sama dengan masalah, saya nggak setuju. Terkesan putus asa dan berat banget. Hidup seperti beban karena mengandung banyak masalah“ lanjut Evy.
“Mmmm…..gimana ya ? Menurutku memang hidup itu pilihan. Tapi ternyata setiap pilihan malah menghasilkan masalah. Gua ambil contoh yakk...Pagi tadi gua dihadapkan pada dua pilihan : minum kopi atau minum obat. Kalau minum kopi, berarti tiga jam kedepan aku nggak boleh minum obat. Kamu kan tahu efek kopi dan obat jika diminum bareng. Aku pilih minum kopi. Dan sekarang sakit kepalaku kumat. Padahal belum satu jam. Terpaksa sakit ini kutahan saja. "Itu masalah kan?” jelas Norman.
Evy manggut- manggut. Pembicaraan ini menjadi menarik.
“Jadi kalau digabung menjadi seperti ini : Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan akan menghasilkan masalah. Tugas kita adalah menyelesaikan tiap  masalah yang dihasilkan oleh pilihan kita. Keren kan ??"“
“Ha..ha..ha. Mantap. Cocok jadi motivator kamu itu ?”
“Tentu dooong. Tapi beneran , kata- kata tadi baru ter-pikir-kan sekarang. Selama ini aku nggak nyadar sama sekali. Hidup cukup dijalani aja. Mengalir seperti air”
“Eh..aku mau kasih contoh lagi. Ini erat banget dengan kita para sales. Saat kita memilih untuk menerima order dari customer, kita punya masalah yaitu bertanggung jawab mengirim order tersebut tepat waktu. Dan masalah lanjutannya adalah mengkoordinasikan order dengan tim- tim yang lain, mulai ppic, produksi, quality dan distribusi. Dan dalam prosesnya nanti tidak menutup kemungkinan ada masalah yang timbul. Entah itu mesin rusak, material habis dan lain- lain. Belum lagi complain jika barang nggak sesuai spek customer. Intinya kita sebagai sales benar- benar harus memantau setiap proses agar order sesuai pesanan pelanggan. Benar- benar kerja ekstra demi customer. Begitu yakk???"” Evy ngomong panjang lebar. 
“ Naaahhhh….pinter. Josss…!!!”
“Gua tambahin lagi...saat gua memilih pulang malam karena menyelesaikan pekerjaan, siap- siap aja diomelin istri. He..he..he” Norman melanjutkan.
“Ha..ha..ha. Memang repot punya istri galak”
“Bukan galak. Tapi perhatian “
“Cieee….cie..perhatian nih yeee..”
Mereka tertawa bersama.
“Terus ? Kesimpulannya apa  Mau ku-update di FB nih..!!! ” Evy mulai membuka smartphone-nya.
“Hidup adalah menyelesaikan setiap masalah yang dihasilkan oleh pilihan kita dengan sebaik- baiknya” Norman menjawab dengan mantap.
“Keren”

Jumat, 25 Maret 2016

Lima Sales Geblek dalam Episode Herry Part 3


Herry …part 3

Sales : Tiok

“Bahh…sialan tuh Herry !!!”

Tapi apa mau dikata. Nasi sudah jadi bubur . Terlanjur. Sekarang Tiok melewati harinya dengan penuh kebingungan. Contact kesana kemari berharap ada lowongan pekerjaan. Bagaimanapun hidup terus berlanjut, dan tetap butuh duit untuk tetap hidup.

“Ikut aku aja Tiok “ Pak Herman memberi tawaran.

Lima Sales Geblek dalam episode Herry Part 2


HERRY …part. 2

Sales : Tiok

“Aku pinjem mobilmu yak !!” Herry mengatakan itu di Sabtu yang cerah.

Tiok kaget. Nggak biasanya tuh anak pinjem mobil segala . Ada apa ? Tiok jadi curiga.

“Nggak salah ? Emang mobilmu kemana ?” tanya Tiok.

“Lagi dipinjem sama nyokap. Boleh ya ? Butuh banget nih, ngantar istri ke luar kota “ desak Herry lagi.

Tiok mengambil nafas dalam. Instingnya mengatakan “JANGAN”. Ada yang nggak beres dibalik ini semua.

Jumat, 06 November 2015

GIGOLO PENGEN INSAF Part 4

Di kostnya Rio merenung. Apakah karena pilihannya yang salah sehingga hidup serasa ribet kayak gini ? Tapi bagaimana dia bisa menghadapi hidup selanjutnya ? Bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk hidup. Dia sudah tergantung pada pekerjaan nyleneh ini, dan tak bisa berpikir yang lain. Tapi dia juga ngerasa hidupnya selalu Gegana (Gelisah, galau dan merana). Bagaimana kalau dia mencoba mencari pekerjaan lain. Yang halal. Yang dilakukan orang kebanyakan. Apakah hidupnya akan berubah ? Bagaimana kalau tambah parah? Dan bagaimana kalau dia memang tak sanggup melupakan Burhan ? Bagaimana…bagaimana..bagaimana ?
Rio pusing.

GIGOLO PENGEN INSAF part 3

Rio    : Mbah membuatnya begitu sederhana, padahal saya yang ngalamin tidak merasa se simple itu..
Mbah To : Nak Rio bisa menambahkan hal lain kalau ada.
Rio berpikir. Wahh..tentu saja ada banyak masalah lain yang bisa ditambahkan. Tentang biaya hidup, nggak punya uang, waktunya bayar tagihan, bertemu orang brengsek yang bikin sakit hati, kesepian, tidak bisa tidur, bensin habis, motor rusak, dan masih banyak masalah yang lain. Semuanya itu disampaikannya ke Mbah To.
Mbah To menuliskan semua masalah Rio di tabel. Dan membandingkannya dengan masalah yang kemungkinan juga di hadapi orang lain.


GIGOLO PENGEN INSAF Part 2

Rio    : Aku merasa menemukan tempat bersandar. Tempat aku berteduh dan membagi cerita. Sehingga tanpa terasa aku mulai membutuhkan dan mencintainya.
Mbah To : (mulai berkunang- kunang..it’s so complicated)
Rio    : Namun ternyata Burhan memilih yang lain. Dia menikah dengan gadis di kampung dan sekarang tak pernah ada kabarnya lagi. Dia mencampakkanku mbah. Mbah harusnya tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang kita cintai …
(Mbah To hampir pingsan, tapi buru- buru minum air putih sehingga nggak jadi pingsan)
Rio    : Aku harus gimana mbah ?
Mbah To geleng- geleng kepala kayak orang India. Bagaimana mengurai masalah gigolo satu ini ?

GIGOLO PENGEN INSAF 1


Siang itu Mbah To kedatangan seorang tamu yang terus terang mengaku sebagai gigolo. Sebut saja namanya Rio. Melihat perawakannya yang tinggi besar, gagah dan ganteng tentu itu modal  utama buat cari pelanggan. Siapa lagi kalo bukan cewek dan tante jablay.
Tapi siang ini sang cowok lagi pasang wajah jutek.
Rio    : Mbah , saya punya masalah nih.
Mbah To : Semua orang pasti punya masalah nak
Rio    : Tapi yang ini lain mbah
Mbah To : Baiklah…coba ceritakan
Rio    : Tapi mbah jangan ceritakan ke orang lain ya ..! ( dengan nada yang mulai merayu dan manja)
Mbah To : (Busyet nih anak…). Tidak akan saya ceritakan.  Rahasia anak dijamin disini.
Mbah To membuat gerakan mengunci mulut.
Rio mengulurkan jari kelingkingnya. “Suwerr ..ya mbah. Janji lho “
Mbah To : (Ampun deh …ini gigolo apa bencong sih ???)